Traveling adalah hobby yang sangat mengasyikkan, ini pasti akan disetujui oleh kita-kita penganut traveling sebagai hobby. Bisa jalan-jalan keliling Indonesia atau bahkan traveling-traveling keseluruh dunia mungkin akan berkesan dan terasa “waaahhhhhhh”! Ada banyak alasan mengapa orang-orang (termasuk saya) menjadikan traveling sebagai hobby. Alasan itu diantaranya adalah ingin melihat “dunia luar” dari dunia yang selama ini setiap hari kita lihat.
Pada era ini, traveling bahkan sudah menjadi kebutuhan semua orang setelah melalui hari-hari panjang yang penat dengan pekerjaan. Begitu juga untuk para milenial yang menjadikan traveling menjadi salah satu hiburan kekinian. Belakangan ini traveling menjadi salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh generasi milenial hingga bisa dibilang sebagian besar dari pendapatan mereka dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan generasi zaman dulu yang lebih memilih untuk mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk investasi jangka panjang, seperti mobil atau rumah. Selain bermanfaat untuk melepas stres dari rutinitas hari-hari, bagi kaum milenial, traveling juga menjadi salah satu cara untuk mengisi konten feed dan stories di media sosial. Maka tak heran, bila minat milenial untuk berlibur keluar negeri sangat tinggi
Sudah menjadi hal umum jika pariwisata dunia dipenuhi dengan milenial. Bahkan trennya, milenial lebih tertarik berwisata sendiri memanfaatkan teknologi digital dibanding memakai guide atau pemandu. Perkembangan teknologi digital menjadi vibe yang menyenangkan, karena menawarkan pengalaman-pengalaman baru dan berbagai kemudahan. Bersama teknologi yang ada saat ini, tren dan gaya traveling ala milenial mengalami perubahan. Sudah sulit menemukan kamera dengan roll film, peta fisik, atau reservasi akomodasi via telepon. Kendala yang dulu ada, menjadi tantangan, dan terjawab sebagai peluang. Para pengembang dan pelaku startup dunia digital berlomba-lomba menyajikan solusi.
Segala keperluan dan persiapan untuk traveling seperti pemesanan tiket perjalanan, pemesanan akomodasi, restaurant, sarana wisata hingga mengurus dokumen perjalanan dapat dilakukan hanya dengan teknologi digital. Kini, sebagian besar traveler, lebih memilih reservasi tiket, akomodasi atau restaurant via aplikasi atau marketplace online. Bukan hanya karena kemudahan dan kenyamanan transaksi, melainkan juga harga yang lebih murah dan user experience yang menyenangkan. Beberapa situs pemesanan akomodasi bahkan memancing excitement konsumen lewat pengalaman unik berupa tawar-menawar harga.
Tidak hanya untuk persiapan traveling, aplikasi digital juga merambah peran menjadi tour guide dengan memberi informasi lengkap terkait destinasi wisata di lokasi tujuan. Mulai dari penginapan yang nyaman, ikon budaya, kafe yang cozy, spot instagrammable, hingga keterangan detail seperti jam buka-tutup dan harga tiket masuk. Selain itu, informasi tersebut juga diperkuat oleh rating dan testimoni dari traveler lainnya sebagai bahan pertimbangan.
Salah satu kendala yang dulu dirasakan saat traveling adalah transportasi. Namun sekarang ini transportasi online siap menemani waktu traveling. Ketika angkutan umum belum menjanjikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat, maka transportasi online sering kali jadi pilihan. Kendati lebih mahal, namun kemudahan dan kenyamanan menggunakan taksi online dan ojek online kerap digandrungi para traveler. Sebut saja Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, bahkan Malang, sudah bisa mengakses ojek dan taksi online. Setiap traveler yang berkunjung ke sana, atau kota besar lainnya tak perlu cemas terkait masalah transportasi meski sampai di lokasi tujuan pada tengah malam. Atau membutuhkan kendaraan yang bisa mengantar ke bandara untuk mengejar penerbangan subuh pun mereka juga bisa diandalkan. Jadi, beberapa aplikasi ala melenial yang mungkin tidak dapat ditinggalkan saat traveling seperti Traveloka, Google maps, Gojek atau Grab, hingga Google translate saat traveling ke luar negeri.
Satu lagi, traveling tidak dapat dipisahkan dari kegitan mengabadikan moment melalui foto. Mengabadikan kenangan traveling dalam media sosial bahkan menjadi salah satu ciri khas gaya hidup generasi milenial. Tidak mungkin traveling tanpa update story via WA, Facebook, maupun Instagram. Selain berperan sebagai tempat kaum milenial cari referensi tadi, media sosial juga jadi wadah membagikan pengalaman traveling-nya. Intinya, pada masa pra sampai pasca-traveling, keberadaan media sosial selalu dibutuhkan, baik untuk inspirasi maupun panggung eksistensi.